Jejak Kerajaan Melayu di Sergai: Akulturasi Budaya yang Hidup di Sekitar Seirampah
Kerajaan Melayu di Sergai meninggalkan jejak akulturasi budaya yang masih terasa di sekitar Seirampah hingga kini.
Inti Sari
- Kesultanan Serdang berdiri abad ke-18 di wilayah yang kini jadi Kabupaten Serdang Bedagai.
- Seirampah terletak di Sergai, kawasan dengan sejarah panjang peradaban Melayu pesisir Sumatera.
- Akulturasi budaya Melayu-Islam-Arab-Tionghoa membentuk identitas masyarakat Sergai.
- Rumah Melayu tradisional dan seni tari masih diwariskan secara turun-temurun.
- Pesisir Sergai menjadi jalur perdagangan rempah yang melibatkan pedagang dari berbagai bangsa.
Sergai dalam Peta Sejarah Melayu Sumatera
Kabupaten Serdang Bedagai—yang akrab disapa Sergai—berdiri di pesisir timur Sumatera Utara. Tanah ini pernah menjadi bagian dari jaringan kerajaan-kerajaan Melayu yang berkembang sejak abad ke-17 hingga ke-18. Kesultanan Serdang, yang berpusat di sekitar wilayah Perbaungan, menjadi entitas politik Melayu yang mengatur kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Sergai selama berabad-abad.
Kerajaan ini tidak muncul dari ruang kosong. Sebelum Kesultanan Serdang berdiri, kawasan ini sudah menjadi bagian dari pengaruh Kerajaan Aru, sebuah kerajaan maritim yang menguasai pesisir timur Sumatera. Pergantian kekuasaan dari Kerajaan Aru ke Kesultanan Serdang menandai peralihan dari tradisi maritim pra-Islam ke tatanan kerajaan Melayu-Islam yang lebih terstruktur.
Seirampah, sebagai salah satu desa di Sergai, berada dalam radius pengaruh kerajaan ini. Masyarakat di sekitar Seirampah hidup dari pertanian, perikanan, dan perdagangan kecil—pola ekonomi yang sama dengan komunitas Melayu pesisir lainnya di Sumatera timur.
Akulturasi yang Membentuk Wajah Sergai
Yang membuat Sergai menarik bukan hanya kerajaan Melayunya, tapi lapisan akulturasi yang menempel di atasnya. Kesultanan Serdang menerima pengaruh Arab melalui kedatangan ulama-ulama yang menyebarkan Islam. Pengaruh ini masuk ke dalam sistem pemerintahan, adat istiadat, dan seni.
Pedagang Tionghoa dan Gujarat juga singgah di pelabuhan-pesisir Sergai. Mereka membawa barang dagangan—kain, keramik, rempah—dan sekaligus membawa kebiasaan. Hasilnya, masyarakat Sergai mengenal tari-tarian Melayu yang gerakannya memadukan unsur Arab dan lokal, serta kuliner yang memadukan bumbu Nusantara dengan teknik masak pedagang asing.
Di sekitar Seirampah, akulturasi ini tampak pada pola permukiman. Rumah-rumah tradisional Melayu panggung masih berdiri di beberapa dusun, meski jumlahnya makin berkurang. Kayu ulin dan atap rumbia menjadi bahan utama—pilihan yang logis untuk wilayah pesisir dengan curah hujan tinggi dan tanah yang lembap.
Warisan yang Bertahan di Sekitar Seirampah
Hingga 2025, masyarakat di sekitar Seirampah masih merayakan adat Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Pernikahan adat Melayu dengan prosesi merana dan bersanding masih dilaksanakan. Upacara kematian mengikuti tata cara Islam-Melayu yang diwariskan nenek moyang.
Tari Saman dan Tari Melayu sering ditampilkan di acara-acara desa. Musik gambus dan hadrah mengisi malam-malam peringatan keagamaan. Ini bukan pertunjukan wisata—ini ritual hidup yang berjalan karena masyarakatnya masih memaknainya.
Namun, tekanan zaman nyata. Generasi muda di Seirampah lebih akrab dengan ponsel daripada dengan cerita nenek tentang Kesultanan Serdang. Beberapa rumah panggung sudah roboh tanpa penerus yang mau membangun ulang. Tradisi lisan tentang sejarah kerajaan mulai langka karena penuturnya sudah tiada.
Yang tersisa adalah kesadaran kolektif: bahwa tanah ini pernah menjadi bagian dari kerajaan Melayu yang besar, dan bahwa akulturasi yang terjadi di sini bukan sekadar catatan buku—ini darah yang mengalir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sergai.
Cuplikan Video
Tanya Jawab Singkat
Apa nama kerajaan Melayu yang pernah berkuasa di Sergai?
Kesultanan Serdang, berdiri sekitar abad ke-18 dengan pusat di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Serdang Bedagai.
Di mana posisi Seirampah dalam sejarah kerajaan ini?
Seirampah berada di wilayah pengaruh Kesultanan Serdang, sebagai komunitas pesisir yang hidup dari pertanian, perikanan, dan perdagangan kecil.
Apa bukti akulturasi budaya yang masih ada di sekitar Seirampah?
Rumah Melayu panggung, tarian Melayu, musik gambus, adat pernikahan Melayu, dan kuliner lokal yang memadukan berbagai pengaruh.
Mengapa tradisi Melayu di Sergai mulai terkikis?
Urbanisasi, kurangnya regenerasi penutur tradisi, dan perubahan ekonomi masyarakat dari agraris ke sektor lain.